Kamis, 23 Mei 2013

hermeneutika



BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Kajian terhadap penafsiran al-quran dari segi metodeloginya telah banyak dilakukan untuk menggali kembali pemahaman serta kemungkinan makna-makna yang terkandung di dalamnya.
Akhir-akhir ini di kalangan kaum muslimin, terutama kaum modernis, telah banyak memanfaatkan Hermeneutika sebagai salah satu instrumen untuk menggali isi dan kandungan al Quran.
Penggunaan hermeneutika Dalam tradisi keilmuwan Islam telah dikenal ilmu tafsir yang berfungsi untuk menafsirkan al-Quran, sehingga ilmu ini dianggap telah mapan dalam bidangnya. Dari segi epistemologi dan metodologi ilmu ini telah diakui mampu mengembangkan tugasnya untuk menggali kandungan al Quran           
B.       Rumusan masalah
1.    Apa itu hermeneutika?
2.    Teori hermeneutika dalam studi al-Quran
3.    Aliran-aliran hermeneutika dalam study al-Quran
C.       Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini selain untuk memenuhi sebagian tugas dari mata kuliah metodelogi studi islam, juga sebagai bahan bacaan bagi siapa saja yang membaca tulisan ini agar bisa mengetahui tentang hermeneutika dan pendekatannya dalam study al-Quran.
 BAB II
PEMBAHASAN

A.  Pengertian Hermeneutika
Secara etimologis, kata hermeneutika berasal dari bahasa yunani, hermeneuein yang berarti menjelaskan atau hermenia yang berarti penfsiran.[1] Istilah ini merujuk kepada seorang tokoh mitologis yang disebut Hermes, yaitu seorang utusan dewa yang bertugas menerjemahkan pesan jupiter yang menggunakan bahasa langit agar lebih mudah di pahami manusia yang menggunakan bahasa bumi. Agaknya, Hermes adalah tokoh yang mewarnai banyak tradisi besar dimasa lampau.[2]
Sedangkan secara terminologi, hermeneutika dapat diartikan menjadi tiga pengertian. Pertama, pengungkapan pikiran dalam kata-kata, penerjemahan dan tindakan sebagai penafsir. Kedua, usaha mengalihkan dari bahasa asing yang maknanya tidak diketahui kedalam bahasa lain yang dapat dimengerti oleh pembaca. Ketiga, pemindahan ungkapan yang kurang jelas diubah menjadi bentuk ungkapan yang lebih jelas.
Hermeneutika adalah satu disiplin yang berkepentingan dengan upaya memahami ma’na atau arti dan maksud dalam sebuah konsep pemikiran. Dalam hal tersebut masalah apa ma’na yang yang dikehendaki oleh teks yang belum bisa kita pahami secara jelas atau masih ada makna yang tersembunyi sehingga diperlukan penafsiran untuk menjadikan makna itu transparan, terang, jelas, dan gamblang.
B.  Hermeneutika Dalam Islam
Meskipun kemunculan sistematika hermeneutika Al-Qur’an muncul pada dekade 1960, namun pada kenyataanya baru mendapat sambutan yang luas pada akhir dekade 1970, tepatnya setelah fazlur rahman merumuskan hermeneutika sistematikanya. Hermeneutika dalam islam sendiri sebetulnya sudah muncul sejak lama, yaitu pada era tadwin, yang secara perlahan dimulai upaya-upaya metodelogis dalam memahami dan menafsirkan Al-Qur’an. Hal ini terlihat dengan munculnya berbagai kitab-kitab seperti kitab Al asybah wa al Nazhair fi Al-Qur’an, karya Maqatil bin Sulaiman (w. 150 H), serta Ma’ani al-Quran karya Zakariya Yahya bin Zayad al fara (w. 207 H). Meskipun demikian, apa yang diupayakan oleh tokoh-tokoh ini masih terbatas pada pengungkapan karakteristik kesusastraan Al-Qur’an. [3]
Yang terakhir ini, pertama kali diupayakan oleh Imam al Syafi’i (w.204 H) dalam al Risalah, meskipun kitab ini berkaitan dengan Ushul Fiqh, di sini munculnya keterkaitan antara Ushul Fiqh dan hermeneutika Al-Qur’an. Dalam upaya merumuskan metode memahami teks seperti al bayan, nasikh wa mansukh,’am dan khas, mujmal dan mufashal dan sebagainya, al Syafi’i melakukan induksi metodelogis dari bentuk-bentuk retorika Al-Qur’an untuk memperoleh prinsip-prinsip hukum yang bersifat generik yang tidak lain menjadi prinsip umum bagi interpretasi pada penentuan hukum dari Al-Qur’an.
Adanya afinitas antara Ushul Fiqh dan hermeneutika klasikal Al-Qur’an bukanlah sebuah kebetulan yang mengherankan. Karena meskipun keduanya memiliki perbedaan istilah maupun obyek formal, tetapi pada dasarnya berada pada kerangka epistemologis yang sama, yakni epistemologi al bayani yang obyek materialnya Al-Qur’an.[4]
Sebetulnya hermeneutika juga dikenal dalam tradisi islam dengan istilah ilmu tafsir dan takwil. Tafsir artinya mengurai untuk mecari pesan yang terkandung dalam teks, sedangkan takwil menelusuri kepada orisinalitas atau ide awal dari gagasan yang terkandung dalam teks. Disini tafsir dan takwil saling terkait, meskipun karakteristik takwil lebih liberal dan imajinatif. Problem dasar hermeneutika adalah masalah penafsiran teks secara umum, baik berupa teks historis maupun keagamaan. Sehingga hermeneutika mengkonsentrasikan diri pada mufassir (atau kritikus untuk kasus teks sastra) dengan teks.[5]
Hermeneutika al-Quran berkaitan dengan pemahaman dan interpretasi, maka wacana pemikiran islam, mengenalnya justru sejak awal kelahirannya. Problem pemahaman dan penafsiran ini sejak semula lebih terfokus kepada al-Quran, karena dianggap merupakan bagian dari agama. Jadi, dapat diketahui bahwa hermeneutika dalam Al-Qur’an sudah dikenal sejak dulu meskipun tidak menggunakan istilah hermeneutika tetapi konsep yang diterapkan hampir sama.
C.  Teori Hermeneutika dalam Studi Al-Qur’an
Menurut Hasan Hanafi hermeneutika adalah ilmu yang menentukan hubungan antara kesadaran dan obyeknya, yakni kitab suci. Pertama, kesadaran historis yang menentukan keaslian teks dn tingkat kepastian. Kedua, kesadaran eidetik yang menjelaskan makna teks dan menjadikan rasional. Ketiga, kesadaran praktis yang menggunakan makna tersebut sebagai dasar teoritis bagi tindakan dan mengantarkan wahyu pada tujuan akhirnya dalam kehidupan manusia.[6]
Di bawah ini teori-teori hermeneutika yang dikemukan Gadermer yang sesuai dengan aspek-aspek Ulumul Qur’an atau ilmu Tafsir yaitu:
1.    Teori kesadaran sejarah dan teori prapemahaman dan kehati-hatian dalam menafsirkan Al-Qur’an, yaitu teori yang menjelaskan bahwa seorang penafsir harus berhati-hati dalam menafsirkan teks dan menafsirkanya sesuai kehendaknya semata-mata berasal dari prapemahaman yang telah terpengaruh oleh sejarah.
2.    Teori Fusion of Horizon dan Dirasat ma hawla al-Nashs, yaitu teori dalam proses penafsiran terdapat dua horizon utama yang harus diperhatikan dan diasimilasi, yakni horizon teks dan horizon penafsir.
3.    Teori aplikasi dan interpretasi ma’na-cum-maghza, yaitu seorang penafsir menemukan makna yang di maksud dari sebuah teks pada saat teks tersebut muncul, serta mengitrepretasikan kedalam makna baru[7].

D.  Aliran-Aliran Hermeneutika dalam Al-Qur’an
Meskipun hermeneutika dalam islam tergolong baru dalam hasanah ilmu tafsir, namun sampai saat ini ilmu yang dalam perkembanganya menjadi bagian dari filsafat ini telah mengalami perkembangan pesat di tangan para hermeneut muslim kontenporer. Berdasarkan hal ini pengelompokan aliran-aliran hermeneutik dalam kesarjanaan muslim juga telah terpetakan, dalam hal ini Sahiron Syamsudin memetakan aliran hermeneutika Al-Qur’an menjadi tiga kelompok:
1.    Pandangan quasiobyektif tradisionalis, yakni suatu pandangan bahwa Al-Qur’an harus dipahami, ditafsirkan serta diaplikasikan pada masa kini, sebagai mana diaplikasikan dan ditafsirkan disituasi di mana Al-Qur’an pada Nabi Muhammad.
2.    Quasiobyektivis modernis, yaitu aliran yang memandang penting terhadap original meaning (makna asal), namun bagi kelompok makna asal hanya sebagai pijakan untuk melakukan pembacaan terhadap Al-Qur’an di masa kini.
3.    Aliran Subyektivis, yaitu aliran yang meyakini langkah penafsiran sepenuhnya merupakan subyektivitas penafsir. Karena itu setiap generasi berhak menafsirkan Al-Qur’an sesuai dengan perkembagan ilmu pengetahuan.



BAB III
PENUTUP
Dari makalah ini dapat disimpulkan bahwa hermeneutika adalah bidang ilmu yang membahas praktik penafsiran, metode-metode, untuk mengetahui makna yang terkandung dalam sebuah teks.
Hermeneutika Al-Qur’an adalah ilmu membahas metode, serta menjelaskan makna teks sejak pertama kali di wahyukan sampai pada tingkat tindakan di dunia.
Teori-Teori dalam hermeneutika al-Quran: pertama, teori kesadaran dan teori prapemahaman. Kedua, teori Fusion Horizon atau teori penggabumgan. Ketiga, teori Aplikasi atau teori penerapan.
Aliran-aliran hermeneutika Al-Qur’an yaitu:
a)        Pandangan quasiobyektif tradisionalis, yakni suatu pandangan bahwa Al-Qur’an harus dipahami, ditafsirkan serta diaplikasikan pada masa kini.
b)        Quasiobyektivis modernis, yaitu aliran yang memandang penting terhadap original meaning (makna asal).
c)        Aliran Subyektivis, yaitu aliran yang meyakini langkah penafsiran sepenuhnya merupakan subyektivitas penafsir.




DAFTAR PUSTAKA

Zayd, Nasr. Hamid Abu, Hermeneutika Inklusif. Muhammad Mansur & Khorian Nahdliyin. Jakarta: ICIP, 2004

Kuswaya, Adang, Metode Tafsir Kontenporer. STAIN Salatiga Press, 2011

_________, Hermeneutika Hasan Hanafi. STAIN Salatiga Press, 2009

Syamsudin, Sahiron, Upaya Integrasi Hermeneutika dalam Al-Qur’an dan Hadis. Lembaga Penelitian UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2011



[1] Sahiron Syamsuddin, Upaya Integrasi Hermeneutika dalam Kajian Qur’an dan Hadis. Lembaga Penelitian UIN   Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2011 hlm 28
[2] Adang Kuswaya, Metode Tafsir Kontenporer, Model Pendekatan Hermeneutika Sosio-Tematik dalam Tafsir Al-Qur’an Hasan Hanafi, STAIN Salatiga Press, 2011 hlm 15
[3]M. Abid al Jabiri, bunyah al’aql al ‘arabi, hlm. 21
[4] Adang Kuswaya, Metode Tafsir Kontenporer, Model Pendekatan Hermeneutika Sosio-Tematik dalam Tafsir al-Quran Hasan Hanafi, hlm .22
[5] Nashr Hamid Abu zaid, hermeneutika inklusif. Muhammad Mansur & khorian Nahdliyin. Jakarta: ICIP, 2004 hlm 3
[6] Adang Kuswaya, Metode Tafsir Kontenporer. Hlm 70
[7] Sahiron syamsudin, Upaya Integrasi Hermeneutika dalam kajian Al-Qur’an dan Hadis (teori dan aplikasi), UIN Yogyakarta cetakan II, 2011. Hlm 43-46

Tidak ada komentar:

Posting Komentar